PIRU – Sejak pemerintah pusat mengumumkan pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pada Maret 2020, obyek-obyek wisata di seluruh Indonesia ditutup. Akibatnya pendapatan pemerintah daerah dari sektor wisata pun terpuruk, termasuk perekonomian masyarakat yang hidup dari sektor tersebut.

Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (Pemkab SBB), Maluku, pun mengalami hal serupa. Baru sekitar Agustus 2020 yang lalu, Pemkab SBB secara bertahap mulai membuka obyek-obyek wisata. “Seiring dengan mulai menurunnya kasus Covid-19, sudah terlihat masyarakat yang semula tidak bisa ke mana-mana, sekarang mulai datang ke tempat-tempat wisata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Kadis Pariwisata SBB, Johanis Soukotta, kepada Sindonews, Sabtu (14/11/2020).

Menurut Johanis, pemerintah juga sudah menginstruksikan pelaku usaha obyek-obyek wisata dan UMKM-UMKM terkait di zona hijau untuk kembali melakukan aktivitas usaha namun dengan memperhatikan prokes. “Jadi secara umum sektor pariwisata di Seram Bagian Barat mulai menggeliat aktivitas di obyek-obyek wisata. Tapi sebagian pengelola obyek wisata masih memutuskan menutup karena pengunjung yang masih sepi sehingga tidak menutup biaya operasioal,” kata Johanis.

Pandemi memang sangat memukul sektor pariwisata. Pengelola obyek wisata dan masyarakat yang bekerja di sektor tersebut paling terdampak. Karena itu Pemkab SBB tidak hanya memberi bantuan kepada pengelola obyek wisata tapi juga seluruh masyarakat, berupa sembako. Termasuk bantuan makanan siap saji dari Kementerian Pariwisata ke semua pelaku sektor pariwisata.

Seram Bagian Barat memiliki banyak sekali obyek wisata, yang mencakup wisata alam, budaya, agrowisata, “Terdapat sekurangnya 74 spot destinasi wisata, yang paling dominan wisata alam, yaitu pantai dan bahari. Karena memang karakterisitik Seram Bagian Barat adalah kepulauan,” tambah Johanis.

SBB memiliki 62 pulau, 10 pulau di antaranya sudah dihuni, sisanya 52 pulau masih tanpa penghuni. Wisata alam lainnya yang terdapat di kabupaten yang berdiri sejak 2004 ini adalah air terjun, gua-gua, ada juga argowisata. “Kami punya tanaman khas salak merah. Cuma populasinya belum banyak karena masih sulit dibudidayakan di lokasi lain,” kata Johanis.

LEAVE A REPLY